Sabtu, 07 Mei 2011

Bahaya Timbunan Lemak di Perut Efeknya sama seperti merokok dan kadar kolesterol cenderung tinggi.


undefined
Perut buncit (doc Corbis)

VIVAnews - Kegemukan menjadi momok bagi sebagian orang karena bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Secara spesifik, ternyata hal ini terkait bentuk dan area timbunan lemak pada perut.

Menurut para ilmuwan, timbunan lemak perut dapat melipatgandakan risiko kematian akibat penyakit jantung dan stroke. Seperti dilansir dari laman Daily Mail, sebuah penelitian pada hampir 16 ribu pasien jantung koroner, menemukan bahwa timbunan lemak perut bisa sangat berbahaya. Efeknya sama seperti merokok dan kadar kolesterol pasien cenderung tinggi.

Penemuan ini menambahkan bukti bahwa masalah pada jantung dan pembuluh darah tidak hanya terkait dengan seberapa gemuk seseorang. Tetapi juga, letak timbunan lemak. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa timbunan lemak pada perut dan pinggang yang berbentuk seberti buah apel memiliki risiko lebih besar terkena penyakit jantung. Hal ini jika dibandingkan dengan timbunan lemak di perut dan pinggang yang berbentuk seperti buah pir.

Para peneliti di Mayo Clinic, Minnesota, meneliti dari 15.923 pasien dengan penyakit jantung koroner. Mereka menemukan bahwa orang-orang dengan lemak di pinggang berisiko dua kali lebih besar meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Dalam The Journal of the American College of Cardiology, Dr. Francisco Lopez-Jimenez menyatakan bahwa lemak di sekitar pinggang lebih aktif secara metabolik.

"Hal ini memicu perubahan pada kolesterol, tekanan darah, dan gula darah. Namun, orang yang memiliki timbunan lemak di sekitar paha dan bokong tidak menunjukkan peningkatan risiko," katanya.

Dokter sering menilai risiko penyakit jantung koroner dengan melihat indeks massa tubuh pasien. Indeks massa tubuh hanya didapatkan dari perbandingan berat dan tinggi tubuh. 

Tetapi para peneliti menyarankan, pasien dengan penyakit jantung yang memiliki indeks massa tubuh normal untuk mengurangi berat badan jika memiliki pinggang besar.

• VIVAnews

Sehat dan Bugar dengan Bumbu Dapur



Rempah dan bumbu dapur (dok. Corbis)
VIVAnews - Tak perlu berkunjung ke dokter bila terkena demam ringan atau anak mengalami gejala sakit tenggorokan. Anda bisa merangkap sebagai 'dokter paruh waktu' bagi diri dan keluarga untuk pengobatan penyakit ringan. 

Obat untuk keluhan-keluhan kecil sebenarnya ada di rak dapur Anda. Dari sekian banyak bumbu dan rempah untuk bahan makanan, ada beberapa obat alami yang sejak lama dikenal mengatasi masalah kesehatan sehari-hari.

Sunita Roy Chaudhary, Ahli gizi senior di Rumah Sakit Rockland, New Delhi membeberkan beberapa bumbu dapur yang bisa digunakan sebagai obat seperti dikutip dari Health Me Up. 

Garam
-Baik meningkatkan tekanan darah yang rendah
-Memperbaiki penyerapan glukosa
-Sedikit tambahan garam pada soda atau air teh dan minuman lain baik untuk muntah atau diare
-Membantu menjaga keseimbangan elektrolit tubuh dan stimulasi saraf

Jeruk nipis
-Mengobati batuk 
-Mengurangi panas dalam dan gangguan perut
-Membantu menjaga keseimbangan elektrolit tubuh
-Antioksidan yang mencegah penyakit jantung dan kanker

Madu
-Pembersih kulit dan tonik
-Meningkatkan imunitas
-Antioksidan, yang membantu mencegah penyakit kronis
-Obat sakit tenggorokan
-Obat luka bakar 

Minyak zaitun
-Pencahar untuk mengurangi sembelit
-Menurunkan dan mencegah batu empedu
-Mencegah penyakit jantung karena kandungan tinggi omega-3
-Membantu mengobati bisul dan baik untuk pencernaan

Susu
-Sumber protein yang baik, kalsium dan fosfor
-Membantu mencegah osteoporosis
-Susu dingin membantu mengurangi keasaman lambung
-Membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Cuka Apel 
-Mengobati sengatan matahari dan gigitan serangga
-Deodoran yang efektif

Baking Soda
-Mengobati jerawat dan sebagai pembersih wajah dan kulit
-Baik untuk membersihkan gigi
-Menghaluskan tumit 
-Pembersih rambut 

Jahe
-Mengurangi mual dan muntah
-Membantu menyembuhkan batuk
-Mengobati gangguan pencernaan dan perut kembung

-Membantu menyembuhkan migrain